Program biodiesel mewajibkan solar dicampur dengan biodiesel dari minyak sawit, dan persentasenya terus naik: B30 sejak 2020, B35 sejak 2023 dan B40 sejak 2025. Setiap kenaikan persentase menambah kebutuhan minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di dalam negeri, sehingga porsi CPO yang tersedia untuk ekspor berkurang.
Bagi pemilik kebun, efeknya secara umum menopang permintaan dan harga. Tetapi program ini bergantung pada kebijakan dan pendanaan, sehingga juga membawa risiko yang perlu dipahami sebelum Anda menghitung masa depan harga Tandan Buah Segar (TBS).
Cara kerja program biodiesel
Biodiesel yang dicampur ke solar adalah Fatty Acid Methyl Ester (FAME), dibuat dari minyak sawit lewat proses kimia yang disebut transesterifikasi. FAME diproduksi oleh badan usaha bahan bakar nabati, lalu dicampur ke solar oleh badan usaha bahan bakar minyak sesuai alokasi yang ditetapkan pemerintah.
Harga FAME sering lebih tinggi daripada harga solar fosil. Selisih ini ditutup dengan dana yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), yang dulu bernama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Sumber dananya adalah pungutan ekspor produk sawit. Artinya, sebagian nilai ekspor sawit dipakai untuk membiayai permintaan dalam negeri atas sawit itu sendiri.
Rangkaiannya kira-kira begini:
- Eksportir membayar pungutan atas setiap ton produk sawit yang diekspor.
- Dana terkumpul di BPDP.
- BPDP membayar selisih harga FAME kepada produsen biodiesel.
- Produsen biodiesel membeli CPO dalam negeri sebagai bahan baku.
- Permintaan CPO dalam negeri naik, dan harga CPO yang diterima Pabrik Kelapa Sawit (PKS) ikut tertopang.
Seberapa besar dampaknya pada permintaan
Tanpa mengutip angka produksi tertentu, efek kenaikan campuran bisa dilihat dengan hitungan sederhana. Misalkan konsumsi solar nasional tetap sama dari tahun ke tahun. Dengan asumsi itu:
- Naik dari B30 ke B35 berarti kebutuhan FAME bertambah 35 / 30, atau sekitar 17 persen.
- Naik dari B35 ke B40 berarti kebutuhan FAME bertambah 40 / 35, atau sekitar 14 persen.
- Naik dari B40 ke B50 berarti kebutuhan FAME bertambah 50 / 40, atau 25 persen.
Karena bahan baku FAME hampir seluruhnya minyak sawit, kenaikan ini langsung menjadi tambahan permintaan CPO. Dalam praktiknya konsumsi solar juga bergerak mengikuti ekonomi, jadi angka sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah. Untuk angka resmi alokasi biodiesel tiap tahun, rujuk keputusan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kenaikan permintaan dalam negeri ini terjadi sementara luas kebun tidak banyak bertambah dan banyak kebun rakyat memasuki usia tua. Kombinasi itu membuat pasokan CPO untuk ekspor makin ketat, sehingga program biodiesel sering disebut sebagai salah satu penopang harga sawit dalam beberapa tahun terakhir.
Pengaruhnya ke harga TBS di tingkat petani
Harga TBS di tingkat pekebun ditetapkan per provinsi oleh tim penetapan harga yang dipimpin dinas perkebunan provinsi, dengan rumus yang memakai harga jual CPO dan inti dari PKS, rendemen menurut umur tanaman, dan indeks K. Bila permintaan CPO dalam negeri kuat, harga jual CPO PKS cenderung lebih baik, dan harga penetapan TBS ikut naik. Penjelasan lengkapnya ada di cara harga TBS ditetapkan.
Tetapi jalurnya tidak sederhana. Dana subsidi biodiesel berasal dari pungutan ekspor. Bila harga CPO dunia tinggi sementara harga solar rendah, selisih yang harus ditutup membesar. Pemerintah bisa menaikkan tarif pungutan untuk menambah dana, dan pungutan yang lebih tinggi cenderung menekan harga CPO dalam negeri. Jadi program yang menopang permintaan bisa sekaligus membebani harga lewat pungutan. Hubungan ini dibahas di pungutan ekspor CPO dan harga TBS.
Contoh dampak ke pendapatan kebun
Untuk melihat skalanya, pakai hitungan dengan asumsi yang jelas. Misalkan permintaan dalam negeri yang lebih kuat membuat harga TBS rata-rata setahun lebih tinggi Rp 100 per kg dibanding bila program biodiesel tidak naik. Dengan asumsi kebun Anda menghasilkan 20 ton TBS per hektare per tahun:
- tambahan pendapatan kotor: 20.000 kg x Rp 100 = Rp 2 juta per hektare per tahun
- untuk kebun 10 hektare: Rp 20 juta per tahun
Angka Rp 100 per kg di atas bukan perkiraan resmi, hanya alat bantu. Yang penting dari contoh ini adalah arah dan kepekaannya: perubahan harga yang kelihatan kecil per kilogram menjadi cukup besar bila dikalikan dengan produksi setahun. Sebaliknya, bila kebijakan berbalik dan harga turun dengan besaran yang sama, pendapatan Anda berkurang sebesar itu juga.
Efeknya juga terasa di pasar dunia. Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar, sehingga ketika lebih banyak CPO terserap di dalam negeri, pasokan ke pasar ekspor berkurang dan harga dunia cenderung ikut tertopang. Harga dunia yang lebih tinggi pada gilirannya masuk lagi ke harga CPO dalam negeri.
Risiko yang perlu dipahami pemilik kebun
Program biodiesel memberi dukungan, bukan jaminan. Beberapa hal bisa mengubah dampaknya:
- Perubahan kebijakan. Persentase campuran, jadwal kenaikan dan alokasi ditentukan pemerintah dan bisa ditunda atau disesuaikan.
- Kecukupan dana. Bila dana pungutan tidak cukup menutup selisih harga, pemerintah harus memilih antara menaikkan pungutan, mencari sumber lain, atau memperlambat program.
- Persaingan bahan baku. Kebutuhan CPO untuk biodiesel bersaing dengan kebutuhan pangan dan ekspor. Pemerintah pernah menerapkan kebijakan khusus untuk menjaga pasokan minyak goreng ketika harga melonjak.
- Harga minyak bumi. Bila harga minyak bumi turun tajam, selisih harga FAME dan solar membesar dan beban subsidi naik.
Karena itu, jangan memasukkan kenaikan harga TBS akibat program biodiesel sebagai asumsi tetap dalam hitungan balik modal. Lebih aman memakai beberapa skenario harga, seperti dicontohkan di menghitung balik modal kebun sawit.
Apa artinya untuk keputusan investasi
Program biodiesel memperkuat alasan bahwa minyak sawit akan tetap dibutuhkan di dalam negeri dalam jangka panjang. Bagi pembeli kebun, ini satu faktor positif di antara banyak faktor lain. Faktor yang lebih menentukan nilai kebun tetap berada di tingkat kebun itu sendiri: umur tanaman, asal bibit, produktivitas, legalitas lahan, dan jarak ke pabrik.
Permintaan yang kuat juga mendorong pemerintah mendorong peningkatan produktivitas kebun rakyat lewat peremajaan, karena menambah luas kebun baru makin terbatas. Bila kebun Anda sudah tua, program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) layak dipelajari.
Ringkasnya untuk pemilik kebun
Program biodiesel menambah permintaan dalam negeri atas minyak sawit dan cenderung menopang harga, tetapi pembiayaannya bergantung pada pungutan ekspor yang juga bisa menekan harga. Pantau pengumuman pemerintah soal persentase campuran dan tarif pungutan, lalu cek harga TBS terbaru di dinas perkebunan provinsi atau PKS terdekat. Gambaran lebih luas tentang faktor harga ada di penyebab harga TBS naik turun.