Kebun sawit yang dikelola baik umumnya menghasilkan sekitar 20 sampai 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun saat mencapai puncak produksi, sekitar umur 8 sampai 15 tahun. Banyak kebun rakyat menghasilkan jauh lebih rendah, kira-kira 10 sampai 20 ton, karena bibit, pemupukan dan rotasi panen yang kurang teratur. Di awal masa panen hasilnya masih rendah, lalu naik cepat dari tahun ke tahun.
Angka-angka ini adalah kisaran umum. Hasil kebun tertentu bisa berada di luar kisaran itu, dan cara terbaik mengetahuinya adalah dari catatan timbangan, bukan dari cerita.
Hasil panen menurut fase umur
| Fase | Umur sejak tanam | Gambaran produksi |
|---|---|---|
| Panen awal | Sekitar 3 sampai 5 tahun | Rendah dan naik cepat, tandan kecil, sering di bawah 10 ton per hektare |
| Tanaman muda | Sekitar 5 sampai 8 tahun | Naik tajam mendekati puncak |
| Puncak | Sekitar 8 sampai 15 tahun | Tertinggi: 20 sampai 30 ton di kebun yang dikelola baik, 10 sampai 20 ton di banyak kebun rakyat |
| Menurun | Sekitar 15 sampai 25 tahun | Turun perlahan, panen makin sulit karena pokok makin tinggi |
| Tua | Di atas sekitar 25 tahun | Rendah, biasanya mulai dipertimbangkan peremajaan |
Batas antarfase tidak kaku. Kebun di tanah subur dengan bibit unggul mencapai puncak lebih cepat, sedangkan kebun yang kurang dirawat bisa tidak pernah mencapai angka puncak.
Cara menghitung hasil panen dari kebun
Hasil per hektare pada dasarnya adalah hasil kali tiga angka: jumlah pokok produktif, jumlah tandan per pokok per tahun, dan berat rata-rata tandan.
Contoh dengan asumsi: misalkan satu hektare berisi 130 pokok produktif, setiap pokok menghasilkan rata-rata 10 tandan setahun, dan berat rata-rata tandan 15 kilogram. Hasilnya 130 x 10 x 15 = 19.500 kilogram, atau sekitar 19,5 ton TBS per hektare per tahun.
Rumus ini membantu melihat dari mana produksi rendah berasal:
- Pokok produktif sedikit, karena banyak yang mati, tumbang atau tidak berbuah. Lihat menghitung jumlah pokok per hektar.
- Tandan per pokok sedikit, karena stres air, kekurangan hara atau pemangkasan berlebihan.
- Berat tandan rendah, karena tanaman masih muda, penyerbukan buruk atau kekurangan kalium.
Tanaman muda biasanya menghasilkan banyak tandan yang ringan, sedangkan tanaman tua menghasilkan lebih sedikit tandan yang berat. Karena itu, jumlah tandan saja tidak cukup untuk membandingkan dua kebun.
Kebun rakyat dan perkebunan besar
Selisih produksi antara kebun rakyat dan perkebunan besar terutama berasal dari:
- Bibit. Banyak kebun rakyat ditanam dengan bibit asalan yang produksinya rendah sepanjang umur.
- Pupuk. Pemupukan sering dikurangi saat harga TBS turun, dan dampaknya terasa satu sampai dua tahun kemudian.
- Rotasi panen. Panen yang jarang membuat tandan terlalu matang, brondolan hilang, dan buah tertinggal tidak terangkut (restan).
- Kerapatan. Pokok yang mati sering tidak disisip.
Kebun rakyat yang dikelola dengan baik bisa mendekati produksi perkebunan. Perbedaan ini juga berarti ada ruang perbaikan bagi pembeli yang siap merawat kebun dengan disiplin.
Faktor di luar kendali
Curah hujan dan kemarau berpengaruh besar, dan pengaruhnya tertunda. Kemarau panjang bisa menurunkan produksi 6 sampai 24 bulan kemudian. Produksi juga naik turun sepanjang tahun: ada bulan panen raya dan ada bulan sepi yang di lapangan disebut musim trek. Polanya berbeda antar daerah. Penjelasannya ada di pengaruh kemarau pada produksi sawit.
Memeriksa angka produksi saat membeli
Penjual sering menyebut produksi per bulan di puncak musim. Angka itu tidak mewakili setahun penuh. Minta data berikut:
- Nota timbang dari pabrik atau pengepul, minimal 12 bulan, idealnya 2 sampai 3 tahun.
- Luas yang benar-benar ditanam, bukan luas di surat.
- Tahun tanam setiap blok.
Jumlahkan berat per tahun lalu bagi dengan luas tanam. Bandingkan hasilnya dengan kisaran umur di tabel di atas. Panduan lengkapnya ada di membaca data produksi kebun.
Rotasi panen juga memengaruhi angka. Kebun yang dipanen setiap 7 sampai 10 hari biasanya menunjukkan produksi lebih stabil dan sedikit buah yang hilang. Lihat rotasi panen sawit.
Menaksir produksi saat survei lapangan
Kalau nota timbang tidak tersedia, Anda masih bisa menaksir produksi dari lapangan, walau hasilnya kasar. Pilih beberapa baris contoh yang tersebar di seluruh kebun, jangan hanya di pinggir jalan. Di setiap pokok contoh, hitung tandan yang sudah matang dan tandan hijau yang sedang berkembang. Pokok yang banyak menyimpan tandan hijau berarti panen beberapa bulan ke depan masih terjaga.
Perhatikan juga ukuran tandan dan tanda pokok yang tidak berbuah sama sekali. Blok dengan banyak pokok kosong, tandan kecil-kecil, atau bunga jantan yang mendominasi patut dicatat. Brondolan yang berserakan dan tandan busuk di pokok menandakan rotasi panen yang tidak teratur, yang membuat angka produksi di nota lebih rendah dari kemampuan kebun.
Tanyakan pula kepada pemanen atau pekerja setempat berapa kali panen dalam sebulan dan berapa rata-rata hasil satu kali panen. Jawaban mereka sering lebih dekat ke kenyataan daripada angka yang disebut penjual. Taksiran seperti ini tidak menggantikan data timbangan, tetapi cukup untuk menilai apakah klaim penjual masuk akal.
Dari ton ke rupiah
Hasil panen baru bermakna jika dikalikan harga TBS lalu dikurangi biaya. Harga TBS berubah setiap periode, dan harga penetapan dinas perkebunan provinsi bisa berbeda dengan harga yang dibayar Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau pengepul. Selalu cek harga terbaru ke dinas perkebunan provinsi atau PKS terdekat. Hitungan nilai kebun dan masa balik modal ada di harga kebun sawit per hektar dan menghitung balik modal kebun sawit.
Memakai angka ini dengan benar
Pakai kisaran menurut umur sebagai pembanding, tetapi dasarkan keputusan pada data timbangan kebun itu sendiri. Kalau angkanya jauh di bawah kisaran, cari penyebabnya lewat tiga komponen tadi: jumlah pokok, jumlah tandan, dan berat tandan. Dari situ terlihat apakah kebun masih bisa diperbaiki atau memang dibatasi oleh bibit dan umurnya.