Pada jarak tanam segitiga sama sisi 9 x 9 x 9 meter, satu hektar sawit memuat sekitar 143 pokok. Angka yang umum dijumpai di kebun berkisar 130 sampai 143 pokok per hektar, karena sebagian lahan terpakai jalan dan parit, dan sebagian pokok mati atau tidak pernah disisip.

Untuk pembeli, angka di atas kertas tidak berarti apa-apa sebelum dicek di lapangan. Kebun yang diklaim berisi 143 pokok per hektar bisa ternyata hanya 110 pokok hidup, dan selisih itu langsung memotong produksi.

Stand per hectare (SPH)

Istilah yang dipakai di perkebunan adalah stand per hectare (SPH), yaitu jumlah pokok hidup per hektar. SPH bersama umur tanaman adalah dasar menaksir produksi. Kebun dengan SPH rendah tidak bisa mengejar produksi kebun yang rapat hanya dengan pupuk, karena setiap titik kosong adalah pokok yang tidak pernah menghasilkan.

Dari mana angka 143 berasal

Pada pola segitiga, setiap pokok berjarak 9 meter dari enam pokok di sekelilingnya. Jarak antarbaris menjadi sekitar 7,8 meter (9 dikali 0,866). Luas yang ditempati satu pokok:

  • 9 meter x 7,8 meter = sekitar 70,1 meter persegi per pokok
  • 10.000 meter persegi dibagi 70,1 = sekitar 142,6, dibulatkan menjadi 143 pokok

Pola bujur sangkar dengan jarak yang sama memerlukan 81 meter persegi per pokok, sehingga satu hektar hanya memuat sekitar 123 pokok. Itu sebabnya pola segitiga lebih banyak dipakai: pokok lebih rapat tanpa saling menaungi. Pembahasan variasi jarak tanam, termasuk pada lahan gambut yang sering ditanam sedikit lebih rapat, ada di jarak tanam sawit dan pola segitiga.

Mengapa angka di lapangan lebih rendah

Beberapa hal menurunkan jumlah pokok nyata di bawah angka teoretis:

  • jalan produksi, jalan panen, dan parit yang memakan lahan,
  • tepi kebun yang tidak penuh karena bentuk bidang tidak beraturan,
  • pokok mati karena penyakit, banjir, atau hama, yang tidak disisip,
  • titik yang sejak awal tidak ditanam karena berbatu, tergenang, atau terlewat,
  • jarak tanam yang sebenarnya lebih lebar dari 9 meter.

Sebagian penyebab ini wajar dan tidak bisa dihindari. Yang perlu dihitung adalah selisih yang berasal dari pokok mati dan titik kosong, karena itu yang menurunkan nilai kebun.

Cara melakukan sensus pokok

Sensus pokok berarti menghitung setiap pokok di kebun, baris demi baris. Untuk kebun kecil, dua orang bisa menyelesaikannya dalam sehari.

  1. Mulai dari satu sudut dan telusuri baris secara berurutan. Tandai baris yang sudah dihitung dengan cat atau pita supaya tidak terhitung dua kali.
  2. Catat setiap pokok dengan kategori: sehat, sakit, mati, sisipan, atau titik kosong.
  3. Untuk pokok sakit, catat gejala singkat, misalnya jamur di pangkal batang atau daun menguning.
  4. Jumlahkan per kategori, lalu bagi jumlah pokok hidup dengan luas untuk mendapatkan SPH.

Bila kebun terlalu luas untuk disensus penuh sebelum membeli, buat petak contoh. Pilih tiga sampai lima petak di lokasi berbeda, ukur luasnya dengan pita ukur atau titik dari ponsel, hitung pokoknya, lalu ambil rata-rata. Hindari memilih petak di pinggir jalan saja.

Contoh perhitungan

Misalkan sebuah kebun ditawarkan seluas 5 hektar dengan klaim berisi sekitar 700 pokok. Hasil sensus Anda:

KategoriJumlah
Pokok sehat560
Pokok sakit atau merana25
Pokok sisipan (lebih muda)30
Pokok mati atau tumbang15
Titik kosong50

Pokok hidup yang benar-benar berproduksi penuh adalah 560 ditambah sebagian dari 25 pokok sakit. Bila Anda hanya menghitung yang sehat, SPH produktifnya 560 dibagi 5 = 112 pokok per hektar. Sisipan menambah 6 pokok per hektar, tetapi produksinya baru datang beberapa tahun lagi.

Dibanding klaim 700 pokok (140 per hektar), selisihnya sekitar 20 persen. Dengan asumsi produksi per pokok sehat setara, potensi produksi kebun ini juga sekitar 20 persen di bawah gambaran awal. Angka ini sah dibawa ke meja negosiasi, bersama biaya menyisip titik kosong.

Menerjemahkan pokok kosong ke rupiah

Selisih jumlah pokok baru terasa bila diubah menjadi produksi. Caranya: bagi produksi per hektar yang wajar untuk umur kebun itu dengan jumlah pokok ideal, sehingga Anda mendapat perkiraan produksi per pokok per tahun. Kalikan dengan jumlah pokok yang hilang.

Misalkan kebun seumur itu di daerah tersebut wajarnya menghasilkan 20 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar per tahun pada kerapatan 140 pokok per hektar. Dengan asumsi itu, satu pokok sehat menghasilkan sekitar 143 kilogram per tahun. Pada kebun contoh di atas, ada sekitar 140 pokok yang kurang dari klaim (700 dikurangi 560). Kehilangannya sekitar 20 ton per tahun untuk seluruh kebun. Kalikan dengan asumsi harga bersih per kilogram yang Anda pakai, lalu dengan sisa tahun sampai sisipan mulai berbuah atau sampai peremajaan, dan Anda mendapat angka yang bisa dipertanggungjawabkan saat menawar.

Angka-angka di sini hanya ilustrasi. Gunakan produksi wajar dari kebun tetangga seumur dan harga acuan dari dinas perkebunan provinsi untuk perhitungan Anda sendiri.

Bila jumlah pokok justru terlalu banyak

Kebalikannya juga terjadi. Sebagian kebun rakyat ditanam lebih rapat dari anjuran, dengan harapan lebih banyak pokok berarti lebih banyak buah. Pada tahun-tahun awal mungkin benar, tetapi setelah tajuk saling menutup, pokok bersaing mendapatkan cahaya. Batang cenderung memanjang lebih cepat, jumlah tandan per pokok turun, dan panen menjadi lebih sulit karena pokok cepat tinggi.

Jadi SPH yang jauh di atas 143 bukan otomatis kabar baik. Ukur jarak antarpokok di beberapa baris. Bila jauh lebih rapat dari 9 meter dan tajuk sudah saling menutup, produksi per hektar kebun itu mungkin tidak setinggi yang diharapkan dari jumlah pokoknya.

Pokok sisipan: untung atau beban

Menyisip titik kosong pada kebun muda masih masuk akal karena pokok sisipan sempat mengejar. Pada kebun yang sudah tinggi, sisipan sering kalah bersaing cahaya dengan pokok di sekitarnya dan tumbuh lambat. Sebagian pengelola memilih tidak menyisip kebun tua dan menunggu peremajaan. Bagi pembeli, pokok sisipan dihitung sebagai pokok yang belum berproduksi penuh.

Hubungkan dengan data produksi

SPH yang sudah Anda hitung membuat data produksi lebih mudah dibaca. Bila kebun ber-SPH rendah mengklaim produksi per hektar setinggi kebun yang rapat, salah satu angkanya perlu dipertanyakan. Cara membaca nota timbang dan catatan panen ada di membaca data produksi kebun sawit.

Langkah berikutnya

Masukkan sensus pokok ke rencana survei Anda dan lakukan sebelum harga disepakati. Daftar pengamatan lain yang dikerjakan di hari yang sama ada di survei lapangan kebun sawit, dan urutan pembelian lengkapnya di cara membeli kebun sawit.