Jarak tanam sawit yang paling umum adalah 9 x 9 x 9 meter dalam pola segitiga sama sisi. Dengan jarak ini, setiap pokok berjarak 9 meter ke enam pokok di sekitarnya, jarak antarbaris sekitar 7,8 meter, dan satu hektare berisi sekitar 143 pokok. Pada praktiknya, kepadatan 130 sampai 143 pokok per hektare adalah rentang yang lazim.
Jarak tanam diputuskan sekali dan berlaku seumur kebun. Angka ini menentukan berapa pokok yang Anda bayar bibitnya, berapa pupuk yang dibutuhkan, dan seberapa mudah panen dilakukan selama 25 tahun.
Mengapa pola segitiga lebih efisien
Tajuk sawit melebar ke segala arah seperti lingkaran. Pada pola bujur sangkar, setiap pokok berjarak dekat ke empat tetangga dan lebih jauh ke empat tetangga diagonal, sehingga ada ruang yang tidak terpakai di tengah setiap kotak. Pada pola segitiga, enam tetangga berada pada jarak yang sama, sehingga cahaya, air, dan hara terbagi lebih merata.
Hasilnya, dengan jarak tanam 9 meter, pola segitiga memuat sekitar 143 pokok per hektare, sedangkan pola bujur sangkar 9 x 9 meter hanya sekitar 123 pokok. Selisihnya sekitar 16 persen lebih banyak pokok tanpa membuat tajuk lebih sesak.
Cara menghitung pokok per hektare
Pada pola segitiga sama sisi dengan jarak tanam s meter, luas yang ditempati satu pokok adalah s x s x 0,866 meter persegi. Angka 0,866 berasal dari tinggi segitiga sama sisi dibagi panjang sisinya. Jumlah pokok per hektare adalah 10.000 dibagi luas per pokok.
Untuk jarak 9 meter: 9 x 9 x 0,866 = 70,1 meter persegi per pokok, dan 10.000 / 70,1 = sekitar 143 pokok. Jarak antarbaris adalah s x 0,866, yaitu sekitar 7,8 meter.
| Jarak tanam | Pola | Jarak antarbaris | Pokok per hektare |
|---|---|---|---|
| 8,5 m | Segitiga | sekitar 7,4 m | sekitar 160 |
| 8,7 m | Segitiga | sekitar 7,5 m | sekitar 153 |
| 9,0 m | Segitiga | sekitar 7,8 m | sekitar 143 |
| 9,2 m | Segitiga | sekitar 8,0 m | sekitar 136 |
| 9,5 m | Segitiga | sekitar 8,2 m | sekitar 128 |
| 9,0 m | Bujur sangkar | 9,0 m | sekitar 123 |
Angka di tabel adalah kepadatan pada lahan yang seluruhnya ditanami. Untuk menilai kebun yang sudah ada, hitungan ini dipakai bersama sensus pokok, seperti dibahas di menghitung jumlah pokok sawit per hektar.
Kapan jarak tanam disesuaikan
Lahan gambut
Di gambut, pertumbuhan pokok cenderung berbeda dari tanah mineral, dan banyak kebun memakai jarak yang sedikit lebih rapat, misalnya di kisaran 8,5 sampai 8,8 meter. Gambut juga punya masalah pokok condong karena tanah yang lunak, sehingga pemadatan jalur tanam sering dilakukan sebelum menanam.
Tanah mineral yang kurang subur
Pada tanah berpasir atau miskin hara, sebagian pekebun memilih jarak sedikit lebih rapat untuk mengejar hasil per hektare. Langkah ini harus diimbangi pemupukan yang cukup, karena lebih banyak pokok berarti lebih banyak hara yang dibutuhkan.
Lahan berbukit dan berteras
Di lahan miring, pokok ditanam di teras yang mengikuti kontur. Jarak dalam barisan dijaga sekitar 9 meter, tetapi jarak antarteras mengikuti kemiringan, sehingga kepadatan per hektare tidak seragam. Perhitungannya dilakukan per teras, bukan dengan rumus segitiga biasa. Lihat teras dan konservasi tanah.
Varietas tertentu
Beberapa produsen benih menawarkan bahan tanam dengan tajuk lebih kompak yang dianjurkan untuk ditanam lebih rapat. Jika memakai bahan tanam seperti ini, ikuti jarak tanam yang direkomendasikan produsennya.
Terlalu rapat atau terlalu jarang
Kebun yang terlalu rapat terlihat produktif di tahun-tahun awal karena jumlah pokoknya banyak. Setelah tajuk menutup, pokok saling menaungi, tumbuh meninggi untuk mencari cahaya, dan jumlah tandan per pokok menurun. Pokok yang tinggi lebih cepat sulit dipanen, sehingga masa panen ekonomis bisa memendek.
Kebun yang terlalu jarang menyia-nyiakan lahan. Ruang kosong di antara tajuk ditumbuhi gulma, dan hasil per hektare tidak pernah mencapai potensinya meskipun hasil per pokok baik.
Arah barisan dan cara memancang
Barisan tanam umumnya dibuat membujur utara selatan supaya cahaya matahari pagi dan sore jatuh merata ke kedua sisi barisan. Cara memancang pola segitiga di lapangan secara sederhana:
- Buat garis dasar lurus di satu sisi blok dan pasang pancang setiap 9 meter.
- Barisan berikutnya dibuat sejajar dengan jarak 7,8 meter dari garis dasar.
- Pancang pertama di barisan kedua digeser 4,5 meter dari pancang pertama di garis dasar, lalu dilanjutkan setiap 9 meter.
- Ulangi untuk barisan berikutnya, bergantian antara posisi lurus dan bergeser.
- Periksa sesekali dengan mengukur jarak diagonal. Jika polanya benar, jarak ke pokok di barisan sebelah juga 9 meter.
Tali yang ditandai setiap 4,5 meter dan beberapa orang yang terlatih bisa memancang beberapa hektare per hari di lahan datar.
Luas kotor dan luas bersih
Satu hektare di sertifikat tidak sama dengan satu hektare yang ditanami. Jalan, parit, sempadan sungai, dan bagian yang tergenang mengurangi luas tanam. Misalkan 10 persen lahan dipakai untuk jalan dan parit, maka kebun dengan jarak 9 meter hanya berisi sekitar 129 pokok per hektare kotor, bukan 143. Selisih ini wajar dan perlu diperhitungkan saat menilai kebun.
Dari jarak tanam ke kebutuhan bibit
Jarak tanam langsung menentukan jumlah bibit yang perlu dipesan. Misalkan Anda akan menanam 15 hektare bersih dengan jarak 9 meter. Kebutuhan tanamnya 15 x 143 = 2.145 bibit. Dengan asumsi cadangan 10 persen untuk penyisipan, pesan sekitar 2.360 bibit. Jika memilih jarak 8,7 meter, kebutuhannya naik menjadi 15 x 153 = 2.295 bibit sebelum cadangan, atau sekitar 150 bibit lebih banyak. Selisih yang sama terbawa ke kebutuhan pupuk setiap tahun, karena dosis dihitung per pokok.
Ringkasnya
Pola segitiga 9 meter dengan sekitar 143 pokok per hektare adalah titik awal yang aman untuk tanah mineral. Sesuaikan sedikit untuk gambut, tanah kurang subur, atau bahan tanam yang memang dianjurkan lebih rapat, dan jangan memadatkan tanaman hanya untuk menambah jumlah pokok. Setelah jarak tanam diputuskan, lanjutkan ke persiapan lahan, cara menanam bibit sawit di lapangan, dan perhitungan kebutuhan pupuk di dasar pemupukan sawit.