Kemarau panjang menurunkan produksi sawit, tetapi penurunannya biasanya tidak langsung terasa. Dampaknya muncul bertahap, kira-kira 6 sampai 24 bulan setelah kemarau, karena kekeringan mengganggu bakal bunga yang baru akan menjadi tandan siap panen jauh di kemudian hari. Akibatnya, kebun bisa tetap panen normal selama kemarau, lalu produksinya merosot tahun berikutnya, saat hujan sudah kembali.
Pemilik kebun tidak bisa menghentikan kemarau. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi dampaknya dengan menahan air di dalam tanah, menghindari pemupukan di saat yang salah, dan menyiapkan kas untuk masa produksi turun.
Kenapa dampaknya tertunda
Satu tandan sawit butuh waktu panjang sejak bakal bunga terbentuk sampai buahnya matang. Di sepanjang perjalanan itu ada beberapa titik yang peka terhadap kekeringan:
- Penentuan jenis kelamin bunga. Bakal bunga yang mengalami stres air pada fase awal cenderung menjadi bunga jantan. Jumlah bunga betina berkurang, dan kekurangan tandan baru terlihat sekitar dua tahun kemudian.
- Keguguran bunga betina. Bunga betina yang sudah terbentuk bisa gugur bila kekeringan berat terjadi beberapa bulan sebelum mekar.
- Pengisian buah. Tandan yang sedang tumbuh saat kemarau cenderung lebih ringan.
Karena tahap-tahap ini terjadi pada waktu berbeda, kemarau satu musim bisa menekan produksi dalam beberapa gelombang. Ini sebabnya pemilik kebun sering keliru menyalahkan pupuk atau pemanen ketika produksi turun di tengah musim hujan.
Membaca defisit air
Ukuran yang lazim dipakai adalah defisit air: selisih antara kebutuhan air tanaman dan air yang tersedia dari hujan serta cadangan di dalam tanah. Cara kasarnya memakai curah hujan bulanan.
Patokan yang sering dipakai di perkebunan:
- Bulan dengan curah hujan di bawah sekitar 100 mm dianggap bulan kering.
- Kebutuhan air sawit sering didekati sekitar 150 mm per bulan.
- Makin besar defisit air dalam setahun, makin besar penurunan produksi pada tahun-tahun berikutnya.
Angka itu hanya patokan. Daya simpan air tanah sangat menentukan. Tanah liat yang dalam menyimpan lebih banyak air daripada tanah berpasir, dan gambut yang telanjur kering justru sulit menyerap air lagi. Yang paling berguna adalah catatan curah hujan harian dari kebun Anda sendiri, dan sebuah penakar hujan sederhana sudah cukup untuk itu.
Kondisi iklim yang ideal untuk sawit dibahas di curah hujan dan iklim ideal untuk sawit.
Tanda kebun sedang stres air
Saat kemarau berlangsung, perhatikan:
- Beberapa daun tombak (pupus) yang tidak membuka dan menumpuk di pucuk.
- Pelepah tua yang patah dan menggantung (sengkleh) lebih cepat dari biasanya.
- Bunga jantan yang jauh lebih banyak daripada bunga betina beberapa bulan setelahnya.
- Tandan yang kecil dan buah yang matangnya tidak merata.
Catat tanda-tanda ini per blok. Blok di punggung bukit, di tanah berpasir, atau di gambut yang kanalnya terlalu dalam biasanya paling dulu menderita.
Langkah mitigasi
Simpan air di dalam kebun
Di lahan mineral, rorak dan teras menahan limpasan agar meresap. Di gambut dan lahan pasang surut, pintu air ditutup sejak akhir musim hujan supaya muka air tidak turun terlalu jauh. Lihat tata air kebun sawit di lahan gambut.
Tutup permukaan tanah
Mulsa dari tandan kosong atau pelepah di piringan dan gawangan mengurangi penguapan dan menjaga suhu tanah. Pemakaian tandan kosong dibahas di tandan kosong dan pupuk organik sawit.
Atur jadwal pemupukan
Pupuk yang ditabur di tanah kering tidak larut, dan sebagian nitrogen dari urea menguap. Geser jadwal pemupukan ke saat tanah lembap, misalnya awal musim hujan, dan hindari menabur tepat sebelum hujan yang sangat lebat. Kalium yang cukup membantu tanaman mengatur penguapan, jadi jangan memangkas pupuk kalium demi menghemat biaya di tahun kering. Jadwal pupuk tanaman menghasilkan dibahas di pemupukan sawit menghasilkan.
Jangan memangkas berlebihan
Pelepah yang masih hijau adalah dapur tanaman. Pemangkasan berat menjelang atau selama kemarau menambah stres. Pangkas hanya pelepah yang memang perlu dibuang untuk panen.
Kendalikan gulma tanpa menelanjangi tanah
Gulma yang tinggi di piringan bersaing mengambil air. Namun mengupas gawangan sampai gundul justru mempercepat penguapan. Pertahankan penutup tanah yang rendah di gawangan.
Waspadai api
Kemarau panjang adalah musim kebakaran. Siapkan sumber air, bersihkan semak kering di tepi jalan dan kanal, dan jangan pernah membakar sampah atau sisa tebangan. Panduannya ada di melindungi kebun sawit dari kebakaran.
Tanaman muda saat kemarau
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) lebih rentan daripada tanaman dewasa, karena akarnya masih dangkal. Bibit yang baru ditanam bisa mati bila kemarau datang beberapa minggu setelah tanam. Karena itu, penanaman sebaiknya dilakukan di awal musim hujan, bukan di ujungnya. Untuk tanaman yang telanjur ditanam menjelang kemarau, penyiraman pada minggu-minggu pertama dan mulsa di piringan sering menentukan berapa banyak bibit yang bertahan.
Catat bibit yang mati selama kemarau dan siapkan sisipan untuk awal musim hujan berikutnya. Sisipan yang terlambat akan tertinggal pertumbuhannya dibanding pokok di sekitarnya.
Memantau prakiraan musim
Kemarau panjang di Indonesia sering berkaitan dengan fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerbitkan prakiraan musim yang bisa dipakai sebagai peringatan dini. Prakiraan itu tidak selalu tepat untuk satu lokasi kebun, tetapi cukup untuk memutuskan kapan menutup pintu air lebih awal, menunda pemangkasan berat, dan menyiapkan peralatan pemadam.
Menyiapkan keuangan
Karena produksi baru turun berbulan-bulan setelah kemarau, Anda punya waktu untuk bersiap. Misalkan produksi normal kebun 20 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun, dan dengan asumsi kemarau berat menurunkannya 15 persen pada tahun berikutnya. Kebun 10 hektare akan kehilangan sekitar 30 ton TBS dalam setahun. Biaya perawatan tidak ikut turun sebesar itu, jadi margin menyempit lebih tajam daripada produksi. Sisihkan cadangan kas sejak tahun kering, bukan setelah produksi turun.
Bagi pembeli kebun, data produksi bulanan selama beberapa tahun membantu membedakan kebun yang memang buruk dari kebun yang sedang terkena dampak kemarau. Cara membaca angka produksi per hektare ada di hasil panen sawit per hektar.
Langkah berikutnya
Pasang penakar hujan kalau belum ada, catat curah hujan setiap hari, dan simpan bersama data panen bulanan. Setelah dua atau tiga tahun, Anda bisa melihat sendiri berapa lama jeda antara kemarau dan penurunan produksi di kebun Anda. Data itu jauh lebih berguna untuk perencanaan daripada patokan umum mana pun.