Sawit tumbuh paling baik di wilayah dengan curah hujan sekitar 2.000 sampai 2.500 milimeter per tahun yang tersebar merata, tanpa bulan kering yang panjang, suhu harian sekitar 24 sampai 32 °C, penyinaran matahari yang cukup, dan ketinggian di bawah sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Dari semua syarat itu, yang paling sering menentukan beda produksi antarlokasi adalah sebaran hujan, bukan jumlah tahunannya.
Bagi pembeli kebun, iklim adalah faktor yang tidak bisa diperbaiki. Pupuk bisa ditambah dan saluran bisa digali, tetapi hujan tidak. Karena itu, membaca data iklim dengan benar sebelum membeli sama pentingnya dengan memeriksa tanaman.
Angka pokok yang perlu diingat
- Curah hujan tahunan: sekitar 2.000 sampai 2.500 milimeter. Lebih tinggi dari itu umumnya masih bisa diterima bila drainase baik.
- Sebaran: merata, dengan sedikit atau tanpa bulan yang sangat kering.
- Suhu: sekitar 24 sampai 32 °C. Suhu rendah memperlambat pertumbuhan dan pembentukan tandan.
- Penyinaran: pedoman yang sering dipakai sekitar 5 sampai 7 jam per hari. Langit yang terlalu sering berawan atau tertutup asap menurunkan fotosintesis.
- Ketinggian: dataran rendah, di bawah sekitar 500 meter. Makin tinggi, makin sejuk, makin rendah produksinya.
Angka-angka ini adalah pedoman umum, bukan batas mutlak. Banyak kebun berproduksi baik di luar rentang tersebut, terutama bila tanahnya bagus dan pengelolaannya baik.
Jumlah hujan dibanding sebarannya
Bayangkan dua lokasi yang sama-sama menerima 2.400 milimeter setahun. Di lokasi pertama, hujan turun setiap bulan dengan jumlah 150 sampai 250 milimeter. Di lokasi kedua, empat bulan menerima hampir tidak ada hujan, sedangkan bulan-bulan lain sangat basah. Di atas kertas keduanya sama. Di lapangan, kebun di lokasi kedua akan mengalami cekaman air setiap tahun, dan produksinya lebih rendah serta lebih naik turun.
Kelebihan hujan di bulan basah tidak bisa “ditabung” seluruhnya untuk bulan kering. Tanah hanya mampu menyimpan air dalam jumlah terbatas, sisanya mengalir keluar sebagai limpasan atau meresap ke lapisan yang tidak terjangkau akar.
Bulan kering dan defisit air
Untuk sawit, bulan dengan hujan di bawah sekitar 100 milimeter sering dipakai sebagai patokan bulan kering, meskipun klasifikasi iklim lain memakai batas yang berbeda. Satu atau dua bulan kering yang tidak berurutan biasanya masih bisa ditoleransi. Tiga bulan kering berturut-turut atau lebih mulai berdampak nyata.
Cara yang lebih teliti adalah menghitung defisit air, yaitu selisih antara kebutuhan air tanaman dan air yang tersedia dari hujan dan cadangan tanah. Perhitungan lengkapnya memakai data penguapan dan daya simpan tanah, tetapi versi sederhana sudah cukup untuk membandingkan lokasi.
Contoh hitungan sederhana
Dengan asumsi kebutuhan air kebun sekitar 150 milimeter per bulan, dan mengabaikan cadangan air tanah agar contoh tetap sederhana:
| Bulan | Hujan (asumsi) | Kebutuhan (asumsi) | Defisit |
|---|---|---|---|
| Juli | 80 mm | 150 mm | 70 mm |
| Agustus | 40 mm | 150 mm | 110 mm |
| September | 70 mm | 150 mm | 80 mm |
Total defisit pada tiga bulan itu sekitar 260 milimeter. Bila lokasi lain hanya punya satu bulan dengan defisit 50 milimeter, lokasi itu jelas lebih aman bagi produksi. Hitungan nyata akan lebih kecil karena tanah menyimpan sebagian air, tetapi urutan perbandingannya biasanya tetap sama. Semua angka di atas adalah contoh, bukan data lokasi tertentu.
Mengapa dampaknya muncul belakangan
Sawit membentuk bakal bunga jauh sebelum tandan dipanen. Jenis kelamin bunga, jantan atau betina, ditentukan berbulan-bulan sebelum bunga itu mekar, dan bunga betina masih bisa gugur sebelum berkembang menjadi tandan. Kekeringan mendorong lebih banyak bunga jantan dan membuat sebagian bunga betina gagal berkembang.
Akibatnya, kemarau tahun ini sering baru terasa pada produksi beberapa bulan sampai sekitar dua tahun kemudian. Pembeli yang hanya melihat produksi bulan lalu bisa tertipu: kebun yang sedang panen bagus mungkin sedang menuju penurunan akibat kemarau tahun sebelumnya, atau sebaliknya. Penjelasan lebih rinci soal dampak kemarau ada di pengaruh kemarau pada produksi sawit.
Suhu, sinar matahari dan ketinggian
Suhu dan ketinggian saling terkait. Di dataran tinggi, suhu yang lebih rendah memperlambat pertumbuhan dan membuat tanaman lebih lama mulai berbuah. Itulah sebabnya sawit hampir tidak ditanam di wilayah pegunungan, meskipun hujannya cukup.
Sinar matahari juga berpengaruh. Musim dengan awan tebal yang berkepanjangan, atau asap kebakaran yang menutup langit berminggu-minggu, menurunkan fotosintesis. Bagi pemilik kebun, asap adalah satu alasan lagi untuk menjaga lingkungan sekitar dari kebakaran.
Bila hujan terlalu banyak
Hujan berlebih jarang membuat sawit mati, tetapi bisa menurunkan hasil secara tidak langsung:
- Jalan panen rusak, rotasi panen molor, dan buah tertinggal di kebun.
- Pupuk tercuci sebelum terserap bila diberikan saat hujan lebat.
- Lahan dengan drainase buruk tergenang dan akar kekurangan udara.
- Penyerbukan bisa terganggu saat hujan turun terus-menerus.
Di wilayah sangat basah, drainase dan kualitas jalan menjadi lebih penting daripada di wilayah yang hujannya sedang. Kemampuan tanah membuang dan menyimpan air dibahas di jenis tanah untuk kebun sawit.
Membaca data hujan sebelum membeli
- Minta catatan penakar hujan kebun, minimal tiga sampai lima tahun bila ada. Kebun yang dikelola rapi biasanya mencatat hujan harian.
- Bila kebun tidak punya catatan, tanyakan kebun tetangga atau perusahaan di sekitarnya.
- Sebagai pembanding, gunakan data stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terdekat. Ingat bahwa di wilayah bergunung, hujan bisa sangat berbeda dalam jarak puluhan kilometer.
- Hitung jumlah bulan kering per tahun dan perhatikan apakah bulan-bulan itu berurutan.
- Cocokkan tahun-tahun kering dengan catatan produksi kebun satu sampai dua tahun sesudahnya.
Langkah terakhir ini memberi gambaran paling jujur tentang ketahanan kebun terhadap kemarau. Untuk memahami berapa produksi yang wajar dalam kondisi iklim yang baik, baca hasil panen sawit per hektar.
Tahun El Nino dan La Nina
Variasi iklim antartahun juga berpengaruh. Pada tahun El Nino, banyak wilayah Indonesia mengalami kemarau yang lebih panjang dan kering, dan produksi sawit cenderung turun pada tahun berikutnya. Pada tahun La Nina, hujan cenderung lebih banyak, yang umumnya baik bagi produksi tetapi bisa mengganggu panen dan angkut buah. Saat membaca catatan produksi kebun, tandai tahun-tahun seperti ini agar Anda tidak salah menilai kemampuan kebun yang sebenarnya.
Langkah berikutnya
Iklim adalah saringan kedua setelah status lahan saat menilai lokasi. Masukkan hasil pembacaan data hujan Anda ke kerangka di memilih lokasi kebun sawit, lalu bandingkan dengan faktor tanah, akses dan tenaga kerja sebelum memutuskan.