Sawit bisa tumbuh di tiga golongan tanah utama: tanah mineral, tanah gambut dan tanah pasir. Yang paling cocok adalah tanah mineral yang dalam, berdrainase baik, dengan tekstur lempung sampai liat berpasir. Gambut bisa produktif bila tata airnya dijaga ketat, sedangkan pasir umumnya paling lemah karena sulit menahan air dan hara. Di lahan pasang surut ada golongan keempat yang perlu diwaspadai, yaitu tanah sulfat masam.

Jenis tanah menentukan dua hal yang langsung terasa di kantong pemilik: berapa produksi yang realistis, dan berapa biaya pupuk serta tata air untuk mencapainya. Karena itu, pembeli perlu tahu tanah apa yang ada di bawah kebun, bukan hanya apa yang tumbuh di atasnya.

Kelas kesesuaian lahan

Ahli tanah menilai kecocokan lahan untuk tanaman dengan kelas kesesuaian. Untuk sawit, kelas yang umum dipakai adalah sebagai berikut.

KelasArtiContoh faktor pembatas
S1, sangat sesuaiTanpa pembatas berartiTanah dalam, drainase baik, lereng landai
S2, cukup sesuaiPembatas ringan, biaya sedikit lebih tinggiKesuburan rendah, lereng bergelombang
S3, sesuai marginalPembatas berat, biaya jauh lebih tinggi atau hasil lebih rendahGambut dalam, pasir, tanah dangkal, bulan kering panjang
N, tidak sesuaiPembatas tidak bisa diatasi secara wajarLereng sangat curam, genangan permanen, tanah sangat dangkal

Kelas ini menilai lahan, bukan kebun. Kebun di lahan S3 yang dikelola sangat baik bisa mengalahkan kebun di lahan S1 yang terlantar. Namun bila dua kebun dikelola sama baiknya, kebun di lahan S1 hampir selalu lebih murah biayanya per ton buah.

Tanah mineral

Sebagian besar kebun sawit di Indonesia berdiri di tanah mineral. Golongan ini sangat luas, dan di dalamnya kualitasnya beragam.

Tanah merah dan kuning yang masam

Di dataran rendah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, banyak kebun berada di tanah merah sampai kuning yang masam dan kesuburannya rendah sampai sedang, yang dulu dikenal sebagai podsolik merah kuning. Sawit cukup toleran terhadap kemasaman, dan banyak kebun produktif berada di tanah dengan pH sekitar 4 sampai 6. Kuncinya adalah pemupukan yang teratur dan sesuai hasil analisis. Kebun di tanah seperti ini cepat menurun bila pupuk dihentikan.

Tanah aluvial

Tanah endapan sungai biasanya lebih subur dan dalam. Kekurangannya ada pada risiko banjir dan muka air yang tinggi. Kebun di dataran aluvial memerlukan saluran pembuangan, dan riwayat banjirnya perlu ditanyakan sebelum membeli.

Tanah dangkal dan berbatu

Tanah tipis di atas batu atau lapisan keras membatasi akar. Sawit di tanah seperti ini mudah tumbang dan cepat tertekan saat kemarau. Tanah dari batuan tertentu, misalnya batuan ultrabasa di wilayah nikel, juga membawa masalah keseimbangan hara.

Tanah gambut

Gambut terbentuk dari timbunan bahan organik di rawa selama ribuan tahun. Ciri yang dinilai pembeli:

  • Kedalaman. Gambut dangkal lebih mudah dikelola. Gambut yang sangat dalam sejak lama diperlakukan sebagai kawasan lindung, dan pembukaan kebun baru di gambut kini dibatasi.
  • Kematangan. Gambut mentah (fibrik) masih berserat dan mudah amblas. Gambut matang (saprik) lebih stabil. Hemik berada di antaranya.
  • Tata air. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 mewajibkan muka air tanah di ekosistem gambut dijaga tidak lebih dalam dari 0,4 meter di bawah permukaan. Gambut yang dikeringkan berlebihan akan amblas, sulit dibasahi kembali dan mudah terbakar.

Di kebun gambut, sawit sering condong atau roboh karena akarnya kurang kokoh, dan kebutuhan hara mikro seperti tembaga dan seng sering lebih tinggi. Pengelolaan airnya dibahas di tata air kebun sawit lahan gambut. Aturan tentang gambut bisa berubah, jadi pastikan ketentuan terbaru ke instansi terkait.

Tanah pasir

Tanah pasir, terutama pasir kuarsa putih seperti yang ditemui di sebagian Kalimantan dan Bangka Belitung, menahan air dan hara dengan buruk. Air hujan cepat meresap ke bawah, pupuk ikut tercuci, dan tanaman cepat tertekan saat kemarau. Sawit bisa hidup, tetapi produksinya biasanya jauh di bawah tanah mineral yang baik, dan biaya pupuk per ton buah tinggi. Contoh nyata tantangan ini dibahas di kebun sawit di Bangka Belitung.

Tanda lapangan yang perlu dicatat: lapisan pasir putih di bawah lapisan tipis tanah gelap, vegetasi alami yang jarang dan kerdil, serta air sungai yang berwarna cokelat kehitaman.

Tanah sulfat masam

Di lahan pasang surut dekat pantai, sebagian tanah mengandung pirit. Selama tergenang, pirit tidak berbahaya. Bila tanah dikeringkan berlebihan dan pirit terpapar udara, terbentuk asam yang membuat tanah sangat masam dan meracuni akar. Kebun di lahan seperti ini harus menjaga muka air agar lapisan pirit tetap basah. Pengelolaannya dibahas di menanam sawit di lahan pasang surut.

Drainase: faktor yang paling sering diremehkan

Apa pun jenis tanahnya, sawit tidak suka akar yang terendam lama. Sebaliknya, tanah yang terlalu cepat kering juga merugikan. Tanah yang ideal membuang kelebihan air dalam waktu singkat setelah hujan, tetapi tetap menyimpan cukup air untuk minggu-minggu kering. Bagaimana tanah berinteraksi dengan pola hujan setempat dijelaskan di curah hujan dan iklim ideal untuk sawit.

Cara memeriksa tanah sebelum membeli

  1. Bor di beberapa titik. Gunakan bor tanah sederhana di bagian depan, tengah dan belakang kebun, termasuk di bagian yang paling rendah. Catat warna, tekstur dan kedalaman setiap lapisan.
  2. Cari genangan. Datang setelah hujan bila bisa, dan lihat bagian mana yang masih berair.
  3. Ukur gambut bila ada. Tusukkan bor sampai menyentuh tanah mineral di bawahnya untuk mengetahui kedalaman gambut.
  4. Kirim contoh ke laboratorium. Analisis tanah memberi angka pH, kandungan hara dan tekstur.
  5. Lengkapi dengan analisis daun. Untuk kebun yang sudah menghasilkan, contoh daun menunjukkan hara yang benar-benar terserap tanaman. Penjelasannya ada di analisis daun dan tanah kebun sawit.

Menghubungkan jenis tanah dengan harga

Jenis tanah sebaiknya ikut menentukan berapa yang pantas Anda bayar. Dua kebun dengan luas dan umur tanaman yang sama bisa punya nilai yang berbeda jauh bila satu berada di tanah mineral yang dalam dan yang lain di pasir atau gambut dalam. Selisihnya datang dari produksi yang bisa dicapai, biaya pupuk dan tata air per tahun, serta risiko seperti kebakaran atau tanaman roboh. Hitung ketiganya untuk sisa umur ekonomis kebun sebelum menawar.

Langkah berikutnya

Tanah adalah saringan ketiga setelah status lahan dan iklim. Setelah Anda tahu jenis tanah dan kelas kesesuaiannya, masukkan hasilnya ke kerangka memilih lokasi kebun sawit, dan gunakan untuk menilai apakah harga yang ditawarkan sebanding dengan biaya mengelola tanah tersebut.