Tata air di kebun sawit lahan gambut berarti menjaga muka air tanah pada kedalaman yang cukup untuk akar sawit bernapas, tetapi cukup dangkal supaya gambut tetap basah. Alatnya adalah jaringan kanal bertingkat, pintu air atau sekat kanal untuk menahan air, dan titik pantau muka air yang dibaca rutin. Kalau kanal dibuka terlalu dalam, gambut mengering, ambles dan mudah terbakar. Kalau air dibiarkan menggenang, akar busuk dan produksi turun.
Aturan juga ikut menentukan batasnya. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2016, yang mengubah PP 71 Tahun 2014 tentang perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut, mewajibkan muka air tanah di ekosistem gambut dijaga tidak lebih dalam dari 0,4 meter di bawah permukaan. Desain tata air kebun gambut sekarang harus berangkat dari angka itu.
Kenapa gambut butuh perlakuan khusus
Gambut terbentuk dari sisa tumbuhan yang tertimbun dalam keadaan jenuh air selama ribuan tahun. Selama basah, bahan organik ini stabil. Begitu air turun, oksigen masuk, gambut terurai, permukaan tanah turun (subsiden) dan karbon terlepas. Gambut yang sudah terlalu kering juga bisa menjadi kering tak balik: ia menolak air seperti arang dan tidak lagi menyerap hujan dengan baik.
Bagi sawit, akibatnya terasa langsung:
- Pokok doyong atau tumbang karena tanah di sekitar akar ambles dan daya topangnya lemah.
- Akar di lapisan atas mengering di musim kemarau, sehingga tanaman stres air walaupun berdiri di atas lahan basah.
- Api bisa menjalar di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Asapnya menjadi masalah hukum bagi pemilik lahan.
Sebaliknya, gambut yang tergenang terus juga merugikan. Akar sawit butuh lapisan tanah yang tidak jenuh air untuk tumbuh. Genangan lama membuat pelepah menguning, pertumbuhan lambat dan pemupukan sia-sia karena hara tercuci.
Susunan jaringan kanal
Kebun gambut yang tertata biasanya punya tiga tingkat saluran.
Kanal primer
Kanal utama yang membawa air keluar menuju sungai atau saluran alam. Kanal ini paling lebar dan dalam, dan di kebun yang aksesnya lewat sungai sering sekaligus dipakai untuk angkutan perahu atau ponton.
Kanal sekunder
Saluran yang membagi kebun menjadi blok dan menampung air dari kanal tersier. Di sinilah pintu air atau sekat kanal biasanya dipasang, karena dari titik ini air satu blok bisa ditahan tanpa mengganggu blok lain.
Kanal tersier atau parit kebun
Parit kecil di dalam blok yang mengumpulkan air permukaan. Jaraknya lebih rapat di lahan yang lambat meresap.
Desain yang baik mengikuti bentuk kubah gambut. Gambut umumnya lebih tinggi di bagian tengah dan menurun ke arah sungai. Kanal yang memotong kubah tanpa pengendalian bisa menguras air dari area yang jauh lebih luas daripada kebun itu sendiri, termasuk lahan tetangga.
Pintu air dan sekat kanal
Kanal tanpa pengendali hanya punya satu fungsi: membuang air. Padahal di musim kemarau yang dibutuhkan justru menahan air. Untuk itu dipasang:
- Pintu air dengan papan sorong (stop log) yang bisa ditambah atau dikurangi, sehingga tinggi muka air di hulu pintu bisa diatur.
- Sekat kanal permanen dari kayu, karung tanah atau beton di kanal yang tidak lagi perlu mengalirkan air dalam jumlah besar.
- Pelimpah (spillway) agar air berlebih saat hujan lebat tetap lewat tanpa merusak sekat.
Prinsip operasinya sederhana. Saat musim hujan, papan sorong dikurangi supaya genangan cepat turun. Menjelang kemarau, papan ditambah untuk menahan sisa air selama mungkin. Kesalahan yang sering terjadi adalah membuka pintu air habis-habisan di musim hujan lalu lupa menutupnya ketika hujan berhenti.
Memantau muka air tanah
Tanpa pengukuran, tata air hanya tebakan. Alat pantau yang umum adalah pipa berlubang (piezometer sederhana) yang ditanam di tengah blok, jauh dari tepi kanal, karena muka air di tepi kanal selalu lebih dalam daripada di tengah. Bacaan dicatat berkala, misalnya mingguan, dan lebih sering saat kemarau. Tinggi air di kanal diukur dengan papan duga di dekat pintu air.
Catatan itu berguna untuk tiga hal: menentukan kapan pintu air dibuka atau ditutup, menunjukkan kepatuhan pada batas 0,4 meter, dan menjelaskan naik turunnya produksi beberapa bulan kemudian. Bersama catatan curah hujan harian, data muka air adalah bahan diskusi yang paling berguna dengan agronom.
Tata air dan risiko kebakaran
Membakar untuk membuka atau membersihkan lahan adalah tindak pidana menurut undang-undang perkebunan dan lingkungan hidup, dan pemilik bisa dimintai tanggung jawab atas api yang muncul di lahannya. Di gambut, pencegahan terbaik adalah menjaga gambut tetap basah. Kanal yang terisi air juga menjadi sumber air pemadaman dan sekat bakar alami.
Beberapa kebiasaan yang membantu:
- Menahan air sejak akhir musim hujan, bukan menunggu kemarau datang.
- Membersihkan semak dan sisa tebangan di tepi kanal dan jalan.
- Menyiapkan pompa portabel dan selang di titik yang mudah dijangkau.
- Berkoordinasi dengan kebun tetangga, karena kanal dan api tidak mengenal batas kepemilikan.
Pembahasan lebih lengkap ada di artikel melindungi kebun sawit dari kebakaran.
Perawatan rutin yang sering terlewat
Kanal di lahan gambut cepat dangkal oleh endapan, tumbuhan air dan runtuhan tebing. Kanal yang tersumbat membuat blok tergenang, sedangkan kanal yang terus digali makin dalam membuat gambut kering. Jadwal yang masuk akal adalah membersihkan gulma air beberapa kali setahun dan menormalkan kanal bila endapan sudah mengganggu aliran, dengan kedalaman yang tidak melebihi desain.
Sekat kanal dan pintu air juga perlu dicek setelah banjir besar. Papan yang hilang atau sekat yang bocor sering baru ketahuan setelah muka air di blok turun jauh.
Pemupukan di gambut punya kekhususan sendiri, misalnya unsur mikro tembaga (Cu) dan seng (Zn) yang sering kurang. Prinsip umumnya ada di dasar pemupukan sawit. Pupuk sebaiknya diberikan saat air tidak menggenang supaya tidak hanyut ke kanal.
Yang perlu dicek pembeli kebun gambut
Saat menilai kebun gambut untuk dibeli, kondisi tata air sering lebih menentukan daripada umur tanaman. Dalam survei, perhatikan:
- Apakah ada pintu air atau sekat kanal yang berfungsi, atau kanal hanya dibiarkan membuang air.
- Berapa banyak pokok doyong dan tumbang, dan apakah banyak akar yang menggantung di atas tanah.
- Bekas kebakaran: batang hangus, lapisan gambut yang hilang, atau tunggul hitam.
- Catatan muka air dan curah hujan, kalau pemilik menyimpannya.
- Kedalaman gambut dan status lahannya, termasuk apakah lahan berada di kawasan lindung gambut atau kawasan hutan.
Daftar pemeriksaan pembelian ada di membeli kebun sawit di lahan gambut, dan perbedaan gambut dengan tanah mineral dijelaskan di jenis tanah untuk kebun sawit.
Langkah berikutnya
Kalau Anda sudah memiliki kebun gambut, mulailah dari pengukuran. Pasang beberapa pipa pantau di tengah blok dan catat bacaannya selama satu musim. Dari situ akan terlihat blok mana yang terlalu kering dan di kanal mana pintu air perlu dibuat. Aturan tentang gambut bisa berubah, jadi pastikan ketentuan terbaru ke dinas lingkungan hidup atau dinas perkebunan setempat. Kebun gambut banyak dijumpai di pesisir timur Sumatera, misalnya di Riau, dan di dataran rendah Kalimantan.