Pemupukan sawit menghasilkan bertujuan mengganti unsur hara yang terangkut keluar bersama panen dan menjaga pohon tetap sehat untuk musim buah berikutnya. Dosisnya disusun dari hasil analisis daun dan tanah, bukan dari kebiasaan, lalu dibagi menjadi dua atau tiga kali aplikasi dalam setahun pada saat tanah lembap.
Bagi pemilik kebun, pupuk biasanya pos biaya perawatan terbesar, sering sekitar separuh atau lebih dari seluruh biaya pemeliharaan. Karena itu program yang tepat sasaran memberi dampak langsung pada hasil Tandan Buah Segar (TBS) dan pada keuntungan.
Bedanya dengan pemupukan tanaman muda
Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), pupuk dipakai untuk membangun batang, pelepah dan akar. Dosis naik bertahap mengikuti umur, dan jadwalnya cukup baku. Setelah kebun masuk fase Tanaman Menghasilkan (TM), logikanya berubah. Setiap ton TBS yang dipanen membawa keluar nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium dari kebun. Kebun yang produksinya tinggi membutuhkan pengembalian hara yang lebih banyak daripada kebun yang produksinya rendah.
Ada jeda waktu yang perlu dipahami. Pupuk yang ditabur hari ini tidak langsung menambah buah bulan depan. Bakal bunga terbentuk jauh sebelum tandan siap panen, sehingga efek pemupukan yang baik atau buruk baru terlihat di produksi beberapa bulan sampai lebih dari setahun kemudian. Pemilik yang memotong pupuk satu tahun untuk menghemat biaya sering baru merasakan akibatnya di tahun berikutnya.
Menyusun program dari analisis daun
Dasar program yang paling bisa dipertanggungjawabkan adalah analisis daun dari pelepah ke-17 pada tanaman menghasilkan. Contoh daun diambil dari pohon yang ditandai, dikirim ke laboratorium, lalu kadar tiap unsur dibandingkan dengan kisaran optimum. Unsur yang kadarnya di bawah kisaran itu mendapat dosis lebih tinggi, unsur yang sudah cukup bisa dipertahankan atau dikurangi. Cara pengambilan contohnya dibahas di artikel analisis daun dan tanah untuk kebun sawit.
Analisis tanah melengkapi analisis daun. Tanah memberi gambaran keasaman (pH), kandungan bahan organik dan cadangan hara, yang menjelaskan mengapa suatu unsur sulit diserap walaupun sudah sering dipupuk. Contohnya, tanah yang sangat masam membuat banyak unsur kurang tersedia, sehingga pengapuran menjadi bagian dari program.
Selain data laboratorium, perhatikan juga tiga hal di lapangan:
- catatan produksi per blok selama dua atau tiga tahun terakhir
- gejala visual pada daun, misalnya bercak oranye atau daun tua menguning (lihat gejala kekurangan unsur hara pada daun sawit)
- kondisi drainase, karena pupuk di lahan yang tergenang tidak bekerja dengan baik
Jenis pupuk yang umum dipakai
Kebanyakan kebun memakai pupuk tunggal karena dosis tiap unsur bisa diatur sendiri. Pupuk majemuk lebih praktis untuk kebun kecil, tetapi perbandingan unsurnya tetap, sehingga sering ada unsur yang kelebihan dan unsur lain yang kurang.
- Nitrogen (N): urea atau Zwavelzure Ammoniak (ZA). Mendorong pertumbuhan daun dan pembentukan bunga.
- Fosfor (P): batuan fosfat (rock phosphate), Triple Super Phosphate (TSP) atau SP-36. Penting untuk akar dan pembentukan tandan.
- Kalium (K): Muriate of Potash (MOP), yaitu kalium klorida. Kalium sangat berpengaruh pada jumlah dan berat tandan.
- Magnesium (Mg): kieserit atau dolomit. Dolomit sekaligus menaikkan pH tanah.
- Boron (B): borat dalam dosis kecil. Kekurangannya terlihat pada daun muda yang keriting atau bengkok.
Bahan organik seperti tandan kosong dan kompos bisa mengurangi kebutuhan pupuk kimia, terutama kalium, tetapi jarang menggantikannya sepenuhnya. Pembahasannya ada di artikel tandan kosong dan pupuk organik untuk kebun sawit.
Waktu aplikasi dan pembagian dosis
Dosis tahunan dibagi menjadi dua atau tiga kali aplikasi. Kalium dan nitrogen paling sering dibagi karena mudah tercuci. Batuan fosfat dan dolomit bisa diberikan sekali setahun karena larut perlahan.
Waktu yang baik adalah ketika curah hujan cukup tetapi tidak ekstrem. Hindari menabur menjelang hujan sangat deras di lahan miring, karena pupuk ikut terbawa aliran permukaan. Hindari pula puncak kemarau, saat pupuk hanya diam di permukaan tanah. Di lahan gambut atau pasang surut, perhatikan tinggi muka air: pupuk yang ditabur di atas tanah yang tergenang praktis hilang.
Urutan juga berpengaruh. Banyak kebun menabur dolomit atau batuan fosfat lebih dulu, lalu memberi jeda sekitar dua minggu sebelum urea, supaya nitrogen tidak menguap karena bertemu kapur. Borat bisa disebar terpisah dalam dosis kecil.
Cara dan tempat menabur
Pada tanaman menghasilkan, akar penyerap tersebar cukup luas. Pupuk umumnya ditabur merata di bagian luar piringan, tidak ditumpuk di dekat pangkal batang. Sebagian kebun menabur kalium dan magnesium di sekitar tumpukan pelepah di gawangan mati, karena di bawah tumpukan itu akar halus banyak berkembang. Piringan harus bersih dari gulma lebih dulu, kalau tidak, gulma yang lebih dulu menikmati pupuknya.
Pengawasan penaburan sama pentingnya dengan dosis. Pupuk yang dibuang di satu titik atau dibawa pulang pekerja tidak akan terlihat di laporan, tetapi terlihat di produksi. Hitung jumlah karung yang keluar dari gudang per blok dan cocokkan dengan jumlah pohon.
Contoh hitungan kebutuhan pupuk per tahun
Contoh ini memakai asumsi, bukan rekomendasi. Misalkan kebun 10 hektare dengan 136 pokok per hektare, dan rekomendasi dari laboratorium per pokok per tahun seperti di bawah.
| Pupuk | Asumsi dosis per pokok per tahun | Kebutuhan per hektare | Kebutuhan 10 hektare |
|---|---|---|---|
| Urea | 1,5 kg | 204 kg | 2.040 kg (sekitar 41 karung 50 kg) |
| Batuan fosfat | 1,0 kg | 136 kg | 1.360 kg |
| MOP | 1,5 kg | 204 kg | 2.040 kg |
| Kieserit | 0,75 kg | 102 kg | 1.020 kg |
| Borat | 0,05 kg | 6,8 kg | 68 kg |
Dengan asumsi urea dan MOP dibagi dua kali aplikasi, setiap putaran membutuhkan sekitar 1.020 kg urea dan 1.020 kg MOP untuk 10 hektare. Kalikan kebutuhan itu dengan harga pupuk di toko atau distributor setempat untuk mendapat anggaran. Harga pupuk berubah, jadi minta penawaran terbaru sebelum menyusun anggaran tahunan. Gambaran biaya perawatan secara utuh ada di artikel biaya perawatan kebun sawit per hektar.
Kesalahan yang sering terjadi
- Menyamakan dosis untuk semua blok, padahal umur tanam dan tanahnya berbeda.
- Hanya memberi urea karena daun cepat hijau, sementara kalium dan magnesium terabaikan.
- Membeli pupuk tanpa merek yang jelas atau tanpa label kandungan. Pupuk palsu dan pupuk dengan kadar di bawah label masih beredar.
- Menghentikan pupuk total saat harga TBS turun, lalu produksi anjlok setahun kemudian.
- Menabur di piringan yang penuh gulma atau di lahan yang tergenang.
Langkah berikutnya untuk pemilik kebun
Mulailah dari data: kumpulkan catatan produksi per blok dan lakukan analisis daun sekali setahun di bulan yang sama. Dari situ susun program tahunan berisi jenis pupuk, dosis per pokok, jumlah aplikasi dan bulan penaburan. Prinsip dasar tiap unsur dibahas lebih rinci di artikel dasar pemupukan sawit. Evaluasi program setiap tahun dengan membandingkan hasil analisis daun dan produksi, lalu sesuaikan dosis sedikit demi sedikit.