Dari satu Tandan Buah Segar (TBS) dihasilkan dua minyak yang berbeda: minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dari daging buah, dan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO) dari inti biji. Keduanya kemudian dimurnikan dan dipecah menjadi puluhan produk, mulai dari minyak goreng, margarin dan sabun sampai bahan kimia industri dan biodiesel.

Bagi pemilik kebun, rantai ini penting karena harga yang Anda terima untuk TBS dihitung mundur dari harga CPO dan inti yang dijual Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Semakin kuat permintaan atas produk di ujung rantai, semakin kuat pula harga di pangkal rantai, walaupun tidak selalu langsung.

Satu tandan, beberapa aliran hasil

Saat TBS diolah di PKS, buah dipisahkan menjadi beberapa bagian, masing-masing dengan nilai sendiri:

  • Daging buah (mesokarp) dipres menjadi CPO. Ini hasil utama dan penentu terbesar harga TBS.
  • Biji dipecah. Cangkangnya dipisahkan, intinya dijual sebagai inti sawit (kernel) ke pabrik pengolah inti.
  • Cangkang dipakai sebagai bahan bakar ketel uap atau dijual sebagai bahan bakar biomassa.
  • Serat dari pengepresan juga dibakar di ketel uap pabrik.
  • Tandan kosong (tankos) dikembalikan ke kebun sebagai mulsa atau kompos.
  • Limbah cair diolah di kolam dan di sebagian pabrik ditangkap gas metananya untuk listrik.

Rendemen, yaitu persentase minyak yang didapat dari berat TBS, menentukan berapa banyak CPO dari setiap ton buah. Rendemen dipengaruhi umur tanaman, varietas, kematangan buah, dan seberapa cepat buah diolah setelah dipanen. Karena itulah buah dari tanaman muda atau buah yang menginap lama dihargai lebih rendah.

Contoh hitungan dari satu ton buah

Angka berikut hanya ilustrasi untuk menunjukkan cara berpikirnya, bukan angka pabrik tertentu. Misalkan sebuah PKS menerima 1 ton TBS dari tanaman dewasa, dengan asumsi rendemen CPO 21 persen dan rendemen inti 5 persen.

  • CPO yang dihasilkan: 1.000 kg x 21 persen = 210 kg
  • Inti sawit yang dihasilkan: 1.000 kg x 5 persen = 50 kg
  • Sisanya berupa air yang menguap saat perebusan, tandan kosong, serat, cangkang dan limbah cair

Dari contoh ini terlihat bahwa nilai satu ton buah terutama ditentukan oleh sekitar seperlima beratnya, yaitu minyak. Bila rendemen turun satu poin saja karena buah mentah atau terlambat diolah, pabrik kehilangan 10 kg CPO per ton buah. Itulah alasan pabrik memotong timbangan untuk buah mentah, tangkai panjang atau buah yang sudah menginap, dan itulah alasan kebun yang memanen buah matang dengan rapi lebih dihargai.

Dari CPO ke produk pangan

CPO berwarna jingga kemerahan dan belum layak dikonsumsi langsung sebagai minyak goreng. Di pabrik penyulingan (refinery), CPO dimurnikan menjadi minyak sawit yang sudah dihilangkan getah, warna dan baunya, biasa disebut Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO). Proses ini juga menghasilkan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), asam lemak sisa yang dipakai industri sabun, pakan dan bahan kimia.

RBDPO kemudian difraksinasi, yaitu didinginkan perlahan lalu dipisahkan menjadi dua bagian:

  • Olein, bagian cair, yang dikenal sebagai minyak goreng sawit.
  • Stearin, bagian padat, untuk margarin, lemak roti (shortening), lemak pengganti cokelat dan sabun.

Olein bisa difraksinasi lagi untuk menghasilkan minyak yang lebih jernih dan tahan dingin, sementara stearin bisa diolah menjadi lemak khusus untuk industri makanan.

Minyak inti dan bungkilnya

PKO memiliki komposisi lemak yang mirip minyak kelapa, kaya asam laurat. Karena itu PKO banyak dipakai untuk sabun, deterjen, sampo, kosmetik, dan lemak khusus untuk produk cokelat dan krimer. Sisa padat setelah inti diperas disebut bungkil inti sawit, yang dipakai sebagai bahan pakan ternak.

Bagi pekebun, harga inti biasanya masuk ke perhitungan harga TBS bersama harga CPO. Bila harga inti sedang tinggi, sumbangannya ke harga TBS ikut naik, walaupun porsinya jauh lebih kecil daripada CPO. Mekanismenya dijelaskan di cara harga TBS ditetapkan.

Oleokimia dan biodiesel

Di luar pangan, minyak sawit diolah menjadi oleokimia, yaitu bahan kimia dasar dari lemak nabati. Produk pentingnya antara lain asam lemak (fatty acid), alkohol lemak (fatty alcohol), gliserin dan metil ester. Bahan ini masuk ke deterjen, kosmetik, pelumas, farmasi dan plastik tertentu.

Metil ester dari minyak sawit, yang disebut Fatty Acid Methyl Ester (FAME), adalah bahan biodiesel. Indonesia mewajibkan FAME dicampur ke solar dengan persentase yang terus naik, dari 30 persen pada 2020 sampai 40 persen pada 2025. Program ini menyerap porsi besar CPO dalam negeri. Dampaknya terhadap permintaan dibahas di biodiesel dan permintaan minyak sawit.

Rantai pasok dari kebun ke konsumen

Jalur buah petani sampai menjadi produk biasanya melewati beberapa tangan. Setiap mata rantai mengambil margin dan menanggung biaya.

TahapPelakuYang terjadi
Kebunpekebun, perusahaanpanen TBS, kumpul di tempat pengumpulan hasil
Pengumpulanpengepul, pemegang kuota pengiriman atau Delivery Order (DO), koperasibuah dikumpulkan, ditimbang, diangkut ke pabrik
PabrikPKSTBS diolah menjadi CPO dan inti
Penyulinganrefinery, pabrik inti, pabrik biodieselCPO dan inti dimurnikan, difraksinasi, diolah
Industri lanjutanpabrik pangan, oleokimia, pencampur bahan bakarproduk akhir dibuat dan dikemas
Pasarkonsumen dalam negeri, pembeli luar negeriminyak goreng, sabun, biodiesel, ekspor

Untuk petani, mata rantai yang paling bisa diatur adalah tahap pengumpulan. Menjual langsung ke pabrik lewat koperasi atau kemitraan biasanya memberi harga lebih dekat ke harga penetapan dinas daripada menjual lewat beberapa lapis pengepul. Pertimbangannya dibahas di menjual TBS ke pabrik atau pengepul.

Mengapa ini penting untuk nilai kebun

Permintaan atas minyak sawit datang dari banyak arah sekaligus: pangan, industri dan energi, di dalam dan luar negeri. Keragaman ini membuat sawit relatif tahan terhadap jatuhnya satu pasar. Tetapi harga TBS tetap bisa bergejolak karena kebijakan, misalnya pungutan dan bea keluar ekspor, atau perubahan kewajiban campuran biodiesel.

Dengan memahami rantai ini, Anda bisa membaca berita dengan lebih tenang. Kenaikan harga minyak goreng di pasar tidak otomatis berarti harga TBS naik, dan kebijakan ekspor di Jakarta bisa terasa di timbangan pabrik beberapa minggu kemudian. Hubungan antara ekspor dan harga di tingkat petani dijelaskan di pungutan ekspor CPO dan harga TBS.

Ringkasnya untuk pemilik kebun

Fokus utama pemilik kebun tetap pada hal yang bisa dikendalikan: menghasilkan buah matang dengan rendemen baik, mengirimnya segar ke pabrik, dan memilih jalur jual yang paling dekat ke pabrik. Harga di ujung rantai tidak bisa Anda atur, tetapi mutu buah dan jalur jual bisa. Untuk melihat bagaimana semua ini masuk ke hitungan nilai investasi, baca harga kebun sawit per hektar.