Integrasi sawit dan ternak berarti memelihara sapi, kambing atau domba di dalam atau di sekitar kebun sawit. Ternak memakan hijauan dan hasil samping kebun, lalu kotorannya kembali ke tanah sebagai pupuk. Pola dengan sapi dikenal sebagai sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) dan sudah lama didorong oleh Kementerian Pertanian.
Yang biasanya dicari pemilik kebun adalah biaya penyiangan yang lebih rendah, pupuk organik dari kebun sendiri, dan pendapatan tambahan dari ternak. Pola ini berjalan baik di kebun tanaman menghasilkan dengan pokok yang sudah tinggi, dan berisiko di kebun muda yang pucuknya masih terjangkau ternak.
Sumber pakan di kebun sawit
Hijauan di bawah tegakan
Rumput dan gulma lunak di gawangan bisa digembalakan. Jumlahnya bergantung pada cahaya yang tembus ke tanah. Di kebun tua dengan tajuk rapat, hijauan sedikit. Di kebun yang tajuknya belum terlalu rapat, hijauan lebih banyak.
Pelepah dan daun sawit
Pelepah hasil pemangkasan dan panen bisa dijadikan pakan setelah dicacah, karena tangkai yang keras sulit dimakan utuh. Kandungan protein daun dan pelepah rendah, jadi pelepah lebih cocok sebagai sumber serat yang dicampur pakan lain, bukan pakan tunggal.
Hasil samping pabrik
Bungkil inti sawit (BIS) dan solid, yaitu endapan padat dari pengolahan minyak di Pabrik Kelapa Sawit (PKS), dipakai sebagai pakan penguat. Ketersediaan dan harganya bergantung pada pabrik di sekitar Anda.
Pakan dari kebun jarang cukup untuk ternak dalam jumlah besar tanpa tambahan. Hitung daya tampung kebun lebih dulu, baru tentukan jumlah ternak, bukan sebaliknya.
Menghitung daya tampung kebun
Daya tampung adalah jumlah ternak yang bisa diberi makan dari kebun tanpa merusak tanaman dan tanpa membuat ternak kekurangan pakan. Cara menghitungnya dimulai dari kebutuhan pakan harian. Seekor sapi dewasa umumnya membutuhkan hijauan segar sekitar 10 persen dari bobot badannya per hari.
Contoh dengan asumsi: misalkan sapi berbobot 300 kilogram butuh sekitar 30 kilogram hijauan segar per hari, atau hampir 11 ton setahun. Jika satu hektare gawangan di kebun Anda misalkan menghasilkan beberapa ton hijauan yang bisa dimakan per tahun, ditambah pelepah cacah, maka satu ekor sapi membutuhkan lebih dari satu hektare kebun. Angka hijauan per hektare sangat berbeda antarkebun, jadi ukur sendiri dengan memotong dan menimbang rumput dari beberapa petak contoh.
Air minum dan tempat berteduh juga perlu dipikirkan. Ternak yang harus berjalan jauh ke sumber air akan membuat jalur tetap yang memadatkan tanah. Sumber air di beberapa titik dan kandang malam di pinggir kebun membantu menyebarkan dampaknya.
Ternak sebagai pengendali gulma
Ternak yang digembalakan memakan rumput dan gulma di gawangan, sehingga frekuensi penyiangan manual atau penyemprotan herbisida bisa dikurangi. Tetapi ternak tidak membersihkan semuanya. Gulma berkayu, pakis dan tumbuhan beracun ditinggalkan, dan justru bisa mendominasi karena pesaingnya dimakan. Pengendalian gulma terpilih tetap diperlukan. Prinsipnya dibahas di pengendalian gulma di kebun sawit.
Satu hal penting: jangan menggembalakan ternak di blok yang baru disemprot herbisida atau pestisida. Ikuti masa tunggu sesuai label produk, dan beri tanda pada blok yang sedang dalam masa tunggu.
Sapi, kambing atau domba
| Ternak | Cocok untuk | Risiko di kebun sawit |
|---|---|---|
| Sapi | Kebun menghasilkan dengan pokok tinggi dan gawangan lebar | Tanah padat di jalur yang sering dilewati, tebing parit dan tanggul rusak |
| Kambing | Lahan sempit dengan pemeliharaan di kandang | Suka meramban daun dan kulit pohon, bisa merusak sawit muda |
| Domba | Penggembalaan rumput di gawangan | Rentan cacingan di tempat lembap, perlu kandang malam |
Sapi bali banyak dipelihara di kebun sawit karena tahan panas dan mudah beradaptasi. Kambing umumnya lebih aman dipelihara dengan sistem potong angkut, yaitu hijauan diambil dari kebun lalu diberikan di kandang, daripada dilepas, karena kebiasaannya meramban.
Kotoran ternak sebagai pupuk
Kotoran dan urin ternak mengandung nitrogen, fosfor, kalium dan bahan organik. Di kebun yang digembalakan, sebagian kotoran tersebar langsung. Di sistem kandang, kotoran dikumpulkan dan dikomposkan sebelum ditabur ke piringan atau gawangan.
Pupuk kandang memperbaiki struktur tanah, tetapi kadar haranya rendah dan tidak seragam. Ia tidak bisa menggantikan pupuk anorganik dalam takaran yang dibutuhkan sawit menghasilkan. Pakai sebagai pelengkap, dan tetap dasarkan dosis pupuk utama pada analisis daun dan tanah. Pemanfaatan bahan organik lain dari kebun dibahas di tandan kosong dan pupuk organik sawit.
Ternak sebagai tenaga angkut
Di sebagian kebun rakyat, sapi dipakai menarik gerobak untuk mengeluarkan Tandan Buah Segar (TBS) dari blok ke tempat pengumpulan. Di lahan becek atau bergelombang ringan, cara ini bisa lebih murah daripada mesin. Sapi pekerja butuh pakan lebih baik dan waktu istirahat, jadi hitung biayanya dengan jujur.
Risiko yang perlu dijaga
- Sawit muda. Ternak bisa memakan pucuk, menginjak bibit dan merusak piringan. Banyak kebun baru melepas ternak setelah pokok cukup tinggi sehingga pelepah bawah tidak terjangkau.
- Pemadatan tanah. Jalur gembala yang sama setiap hari membuat tanah padat dan air sulit meresap. Rotasikan area gembala.
- Parit dan tanggul. Ternak yang turun ke parit merusak tebing dan menimbun saluran.
- Kehilangan dan konflik. Ternak yang dilepas tanpa penjaga bisa hilang atau masuk ke kebun tetangga.
- Kesehatan ternak. Pakan yang tinggi serat tetapi kurang protein membuat pertumbuhan lambat. Libatkan petugas peternakan untuk vaksinasi dan obat cacing.
Kerja sama dengan peternak
Tidak semua pemilik kebun ingin memelihara ternak sendiri. Pola yang sering dipakai adalah memberi izin kepada peternak setempat untuk menggembalakan ternak di kebun dengan kesepakatan tertulis: blok mana yang boleh dimasuki, siapa yang menanggung kerusakan, dan apakah ada imbalan berupa pupuk kandang atau uang. Kesepakatan yang jelas mencegah sengketa saat ada pokok rusak atau ternak hilang.
Langkah berikutnya
Mulailah kecil. Pilih satu atau dua blok tanaman menghasilkan, hitung hijauan yang tersedia, lalu coba beberapa ekor ternak selama satu musim sambil mencatat perubahan biaya penyiangan. Kalau kebun Anda masih di fase tanaman muda, pemanfaatan gawangan lewat tanaman sela mungkin lebih cocok, seperti dibahas di tumpang sari di sela sawit muda.