Tumpang sari di kebun sawit muda berarti memanfaatkan gawangan, yaitu ruang di antara barisan sawit, untuk tanaman semusim selama tajuk sawit belum menutup. Masa yang realistis adalah tahun pertama sampai sekitar tahun ketiga setelah tanam, saat sinar matahari masih banyak sampai ke tanah. Tanaman yang sering dipakai antara lain jagung, kedelai, kacang tanah, padi gogo, cabai dan nanas.
Tumpang sari bisa menutup sebagian biaya pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Syaratnya satu: sawit tetap menjadi tanaman utama. Tanaman sela tidak boleh mengambil pupuk, air dan ruang akar sawit, dan tidak boleh mengundang hama.
Aturan jarak yang tidak boleh dilanggar
Piringan, yaitu lingkaran bersih di sekeliling pokok, adalah wilayah sawit. Tanaman sela ditanam di luar piringan dengan jarak aman tambahan, sehingga pada tahun pertama tersisa lajur yang cukup lebar di tengah gawangan. Lajur itu menyempit setiap tahun karena piringan diperlebar mengikuti pertumbuhan akar dan pelepah.
Beberapa prinsip praktis:
- Sisakan jalur kerja di tepi lajur supaya pemupukan dan perawatan sawit tidak terhalang.
- Jangan menanam di jalan pikul atau jalan kebun.
- Jangan menimbun tanah olahan ke pangkal pokok sawit.
- Kurangi lebar lajur tanaman sela setiap musim tanam berikutnya.
Fungsi piringan dan jalur kerja dibahas di piringan dan pasar pikul sawit.
Memilih tanaman sela
Tidak semua tanaman cocok. Tabel berikut merangkum pertimbangan umumnya.
| Tanaman | Kelebihan | Yang perlu diwaspadai |
|---|---|---|
| Jagung | Pasar luas, umur pendek | Tinggi dan rakus hara, jangan terlalu dekat barisan sawit |
| Kedelai, kacang tanah | Menambah nitrogen, tajuk rendah | Butuh tanah yang tidak tergenang |
| Padi gogo | Cocok untuk kebutuhan pangan sendiri | Bulirnya menarik tikus yang juga merusak sawit muda |
| Nanas | Tahan tanah masam, termasuk gambut | Masa tanam panjang, perlu direncanakan sejak awal |
| Cabai, sayuran | Nilai jual tinggi per luas | Butuh tenaga dan pestisida intensif, harga naik turun tajam |
| Pisang | Mudah tumbuh | Tinggi, berumpun dan sulit dibongkar, sebaiknya dihindari |
Kalau Anda tidak punya tenaga atau pasar yang jelas untuk tanaman sela, kacangan penutup tanah sering lebih masuk akal. Ia tidak menghasilkan uang, tetapi menjaga tanah dan menambah nitrogen dengan pekerjaan yang jauh lebih sedikit. Pilihannya dibahas di tanaman kacangan penutup tanah sawit.
Pupuk dan pestisida dipisahkan
Tanaman sela harus dipupuk sendiri sesuai kebutuhannya. Jangan mengandalkan sisa pupuk sawit, dan jangan memindahkan jatah pupuk sawit ke tanaman sela. Banyak kebun yang tampak hijau dengan jagung bagus di gawangan ternyata punya sawit yang kerdil karena kekurangan hara pada tahun-tahun kritis pertumbuhannya. Jadwal pupuk sawit muda ada di pemupukan sawit belum menghasilkan.
Hati-hati dengan herbisida. Herbisida yang aman untuk tanaman sela tertentu belum tentu aman bila mengenai daun sawit muda. Menjelang sawit berbunga, semprotan di gawangan juga bisa mengenai bunga jantan dan mengganggu serangga penyerbuk.
Hama yang perlu diantisipasi
Tikus adalah risiko terbesar. Tanaman berbiji seperti padi dan jagung memberi makanan tambahan sehingga populasi tikus naik, lalu tikus beralih menggerogoti pangkal sawit muda. Pasang pelindung batang bila perlu, dan siapkan pengendalian tikus sejak awal. Burung hantu bisa membantu, seperti dibahas di mengendalikan tikus kebun sawit dengan burung hantu.
Sisa tanaman seperti batang jagung sebaiknya dicacah dan dikembalikan ke gawangan sebagai mulsa, bukan dibakar. Membakar di lahan kebun berisiko hukum dan apinya bisa merambat ke sawit.
Contoh hitungan sederhana
Misalkan satu hektare sawit TBM di tahun pertama. Dengan asumsi lajur yang bisa dipakai untuk tanaman sela sekitar 50 persen dari luas lahan, jagung di lajur itu misalkan menghasilkan 2,5 ton pipilan kering. Dengan asumsi harga jual Rp 4.000 per kilogram, pendapatan kotornya Rp 10 juta. Jika biaya benih, pupuk jagung, tenaga dan angkut misalkan Rp 6 juta, tersisa Rp 4 juta.
Angka di atas hanya ilustrasi. Hasil sebenarnya bergantung pada tanah, musim, harga di pasar setempat dan tenaga yang tersedia. Yang penting adalah urutan menghitungnya: luas efektif, hasil per luas efektif, harga, lalu dikurangi semua biaya, termasuk tenaga Anda sendiri. Kalau sisa bersihnya kecil, kacangan penutup tanah mungkin pilihan yang lebih tenang.
Sisa bersih itu bisa menutup sebagian biaya pemeliharaan TBM, yang perinciannya dibahas di biaya membangun kebun sawit baru.
Bekerja sama dengan penggarap
Banyak pemilik kebun tidak punya waktu atau tenaga untuk mengurus tanaman sela sendiri. Pola yang sering dipakai adalah mengizinkan petani setempat menggarap gawangan, dengan imbalan bagi hasil atau sekadar kewajiban menjaga kebun tetap bersih. Pola ini bisa saling menguntungkan: penggarap mendapat lahan, pemilik mendapat gawangan yang terawat dan pengawasan tambahan di lapangan.
Supaya tidak menimbulkan masalah, tuangkan kesepakatan secara tertulis. Isinya minimal:
- Lajur yang boleh digarap dan batas jarak dari piringan.
- Jenis tanaman yang boleh dan tidak boleh ditanam, misalnya larangan pisang dan tanaman tahunan.
- Larangan membakar dan aturan pemakaian herbisida.
- Siapa yang menanggung kerusakan pada pokok sawit.
- Kapan kesepakatan berakhir, misalnya di akhir tahun ketiga atau saat tajuk menutup.
Tanpa batas waktu yang jelas, penggarap bisa merasa punya hak atas lahan setelah beberapa tahun, dan perselisihan seperti ini sulit diselesaikan.
Kapan harus berhenti
Tumpang sari perlu dihentikan ketika:
- Tajuk sawit mulai bertemu di gawangan dan tanaman sela tumbuh kurus karena kurang cahaya.
- Akar sawit sudah menyebar luas di gawangan, sehingga pengolahan tanah akan memutus akar.
- Sawit mulai berbunga dan kegiatan di gawangan mulai mengganggu perawatan dan penyerbukan.
Untuk kebanyakan kebun, itu terjadi sekitar tahun ketiga, kadang lebih cepat di lahan subur.
Langkah berikutnya
Sebelum menanam tanaman sela, tentukan lebar lajur yang aman untuk tahun ini, pastikan pembeli hasilnya ada, dan siapkan pengendalian tikus. Kalau kebun Anda sedang ikut program peremajaan, tanyakan ke koperasi atau dinas perkebunan apakah ada ketentuan khusus tentang tanaman sela di lahan peremajaan.